REMAJA OBESITAS RENTAN TERKENA RESISTENSI INSULIN


Diabetes tak hanya lagi menyerang para orang tua atau lansia saja. Seiring dengan perkembangan zaman, semakin banyak anak muda, termasuk para remaja yang juga berisiko terkena masalah kesehatan yang sama. Sebagai contoh, jumlah anak muda atau remaja dengan kondisi obesitas atau kelebihan berat badan cenderung semakin meningkat. Hal ini akan membuat mereka lebih rentan terkena resistensi insulin yang bisa berimbas pada datangnya diabetes.

Sebagai informasi, resistensi insulin adalah kondisi yang membuat sel-sel tubuh tidak lagi mampu menjadikan gula darah sebagai sumber energi. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya atau minimnya kadar hormon insulin di dalam tubuh akibat pankreas yang sudah tidak lagi mampu berfungsi sebagaimana mestinya. Masalahnya adalah terkadang ada orang yang mengalami kondisi resistensi insulin hingga bertahun-tahun lamanya tanpa menyadarinya dan akhirnya memiliki kadar gula darah yang sangat tinggi sehingga berimbas pada datangnya diabetes.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh dr.  Aman Pulungan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) berjudul Type 2 Diabetes Mellitus in Children and Adolescent: an Indonesian Perspective menyebutkan bahwa prevalensi kasus resistensi insulin pada remaja dengan kondisi obesitas atau kelebihan berat badan di ibukota Jakarta mencapai angka 38 persen. Angka ini tentu sangat tinggi dan mencemaskan pakar kesehatan.

“Saat saya meneliti anak-anak SD di Menteng saja, ada 92 anak dengan kondisi obesitas dan 38 persennya sudah mengalami resistensi insulin. Angka ini tentu sudah sangat mengkhawatirkan,” ungkap Aman.

Ada banyak sekali faktor yang menyebabkan resistensi insulin baik itu berupa etnis, jenis kelamin, berat badan saat lahir, tekanan darah, kadar kolesterol, riwayat keluarga dengan kondisi obesitas, hingga riwayat keluarga dengan diabetes. Hanya saja, saat ini kondisi ini lebih sering terjadi akibat gaya hidup yang tidak sehat, seperti hobi mengonsumsi makanan dan minuman manis sejak usia dini.

Jika anak-anak sudah terbiasa mengonsumsinya, maka akan muncul sindrom metabolik yang akhirnya menyebabkan peningkatan tekanan darah, kadar gula darah, hingga penumpukan lemak di pirut atau pinggang. Hal inilah yang akhirnya berimbas pada naiknya risiko terkena diabetes tipe 2 dan penyakit jantung koroner. (Sumber DokterSehat.com)