TIPS MENGHADAPI PERILAKU MARAH PADA ANAK


Istilah tantrums atau lengkapnya temper tamtrums biasa digunakan untuk menunjuk pada perilaku marah pada anak dibawah 5 tahun, dimana anak suka merengek-rengek, berteriak-teriak, menangis, menjerit-jerit, membanting barang, memukul-mukul dirinya sendiri atau merusak barang-barang yang disekitarnya.
Kadang juga dengan cara berguling-guling atau membentur-benturkan kepala di dinding atau lantai. Hal seperti ini sering terjadi pada waktu anak merasa terhalangi atau tidak dituruti kemauan atau keinginannya, bisa juga anak berada dalam situasi tidak menyenangkan.
Meskipun tantrums terjadi pada semua anak, namun frekwensinya berbeda satu sama lain. Jika tantrums sering terjadi pada seorang anak, pastilah orang merasa sangat terganggu, bahkan tak jarang orang tua sampai merasa malu dengan tetangga dan orang sekitar.
Seolah-olah orang tua tidak mampu atau kewalahan mendidik anak. Berdasar pengamatan, banyak ibu muda kebingungan menghadapi anak tantrums. Demikian juga banyak guru Taman Kanak- Kanak mengalami kesulitan serupa.

Mengapa Anak Tantrums Anak mulai tantrums sekitar usia 1,5 (Satu setengah) tahun dan pada umumnya dapat berakhir sekitar usia 4 (empat) tahun. Tantrums sering kali disebabkan karena anak tidak mampu mengekspresikan permasalahan atau perasaan dengan bahasa yang memadai.

Ia seakan-akan menjadi frustasi karena orang lain tidak mengerti apa kehendaknya. Tantrums memang ada ada juga yang bertahan sampai anak berusia lebih dari 5 (lima) tahun, terutama jika anak pada waktu tantrums tidak mendapat perlakuan tepat.
Lebih lagi jika anak tahu bahwa dengan tantrums dia akan mendapatkan keinginannya. Pada usia sekitar 2 tahun anak mulai bersifat sangat egosentris. Dia ingin “menguasai” alam sekitar, maka ia banyak bereksplorasi. Ia ingin memiliki macam-macam barang yang dilihatnya, ingin mencoba, merasakan dan “menguasai” Anak juga ingin mandiri, berpetualang, lepas dari kekangan orang lain.
Jika ia tidak mendapatkan keinginannya atau merasa terhalangi, lalu frustasi dan marah besar. Karena tidak mampu mengungkapkan frustasi dengan baik, maka terjadilah apa yang disebut tantrums
Tantrums biasanya makin berkurang sejalan dengan perkembangan bahasa dan tingkat kesadaran. Semakin anak mampu mengekspresikan perasaannya dengan bahasa memadai dan lingkungan juga memberikan respon sesuai, maka semakin jarang pula terjadi tantrums pada anak. Tantrums akan menghilang jika anak sudah mampu memenuhi keinginan sendiri tanpa bergantung pada orang lain.

Cara Menghadapi Kalau kita sedang mengahadapi anak sedang tantrums hendaklah bertindak bijaksana agar anak tidak berkembang menjadi anak salah asuhan. Berikut ini di sajikan beberapa cara umum menghadapi anak tantrum, sebagai berikut :

  1. Hendaknya tetap tenang kalau menghadapi anak tantrums, tidak usah menjadi panik, tidak perlu ribut apalagi berteriak-teriak. Sebaiknya saat anak sedang tantrums tidak terlalu diberi perhatian, biar anak tahu kalau perilaku demikian tidak dapat diterima. Berilah perhatian saat anak tenang.
  2. Sebaiknya jangan menyerah pada tuntutan anak tantrums, Jika kita menyerah pada tuntutan, maka selanjutnya tantrums akan dipakai anak sebagai alat untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Akibatnya tantrums lebih sering terjadi.
  3. Jika sedang tantrums, pindahkan ia ke lingkungan aman, bebas dari bahaya, misal  kamar yang kosong, atau halaman luas.
  4. Jika tantrums terjadi di tempat umum, bawalah anak ke tempat yang tidak banyak orang, misal ke dalam mobil atau tempat lain yang sepi.
  5. Anak tidak perlu di beri hukuman karena tantrums dan pada prinsipnya juga tidak perlu diberi hadiah kalau menjadi tenang.
  6. Jangan pedulikan komentar orang-orang di sekitar yang mungkin merasa kasihan atau iba saat anak sedang tantrums atau bahkan mungkin ada yang tidak setuju dengan tindakan membuarkan anak tantrum.
  7. Ajarilah anak cara-cara lebih baik untuk mendapatkan apa yang ia inginkan dan latihlah anak untuk mengekspresikan emosi dengan cara lebih baik.

Di samping cara umum tersebut ada juga beberapa upaya lain yang bisa mencegah dan membantu menenangkan anak tantrums, antara lain sebagai berikut :

  1. Mengalihkan perhatian anak ke hal lain. Sebagai contoh kalau anak tantrums karena minta dibelikan mainan dan orang tua tidak mau membelikan, maka alihkan perhatian pada kuda yang sedang lewat di dekatnya.
  2. Mengubah lingkungan atau memindahkan anak dari sumber tantrums. Jika ia tantrums di kamar atau di rumah, ajaklah jalan-jalan ke luar rumah.
  3. Menyediakan banyak kemungkinan pilihan untuk bermain sehingga anak tidak menjadi jemu dengan alat permainan sama.
  4. Sebelum mengajak anak ke toko, jelaskan lebih dulu apa yang bisa minta dan apa yang tidak bisa ia minta di toko.
  5. Jagalah anak selalu cukup istirahat atau tidur, makan, dan minum, supaya badan selalu segar sehingga tidak mudah terkena stress.
  6. Meningkatkan rasa humor pada anak, misal sering diajak menonton acara televisi atau mendengarkan cerita lucu.

Itulah beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh orang tua maupun guru. Tentu saja masih ada kemungkinan lain yang bisa ditambahkan. Orang tua dan guru yang sudah berpengalaman pasti tahu banyak tentang kiat-kiat menghadapi anak tantrums. (Sumber : Majalah Psikologi Plus)