WASPADA CUACA EKSTRIM UNTUK JEMAAH HAJI INDONESIA


Indonesia kembali memberangkatkan calon jemaah haji sejumlah 221.000 orang pada tahun 2017/1438H. Berdasarkan Rencana Perjalanan Haji (RPH) 2017 Kementerian Agama Republik Indonesia, pemberangkatan calon jemaah haji dibagi menjadi dua gelombong yaitu gelombang pertama diberangkatkan pada 28 Juli hingga 11 Agustus 2017 dengan tujuan Madinah, sedangkan gelombang kedua diberangkatkan pada 12 Agustus hingga 26 Agustus 2017 dengan tujuan Jeddah. Masa tinggal jemaah haji di Arab Saudi maksimal 41 hari dimana kedatangan jemaah haji di tanah air untuk gelombang pertama di perkirakan pada 6 September hingga 20 September 2017 dan gelombang kedua diperkirakan pada 21 September hingga 6 Oktober 2017.

Dikutip dari situs weather.com, cuaca di Arab Saudi untuk akhir bulan Juli hingga awal Oktober 2017 tergolong ekstrim. Dari ketiga kota yang akan dikunjungi oleh para jemaah haji, kota Madinah memiliki cuaca paling ekstrim. Rerata suhu tertinggi di Madinah mencapai 45,8ºC pada siang hari, sedangkan rerata suhu terendah mencapai 32,4ºC pada malam hari, dan rerata kelembapan yaitu 10,7%.

Diurutan kedua yaitu Mekkah dengan rerata suhu tertinggi pada siang hari mencapai 40,5ºC, sedangkan rerata suhu terendah pada malam hari mencapai 29,9ºC, dan rerata kelembapan yaitu 37,9%. Diurutan terakhir yaitu Jeddah dengan rerata suhu tertinggi pada siang hari mencapai 35,9ºC, sedangkan rerata suhu terendah pada malam hari mencapai 30,5ºC, dan rerata kelembapan yaitu 56,4%.

Menurut dr.Sri Wulandari, Sp.EM, salah satu calon jemaah haji dari RS PKU Muhammadiyah Gamping, permasalahan kesehatan haji di musim panas adalah aklimatisasi (penyesuaian diri) dan metabolisme tubuh para jemaah haji yang semula terbiasa tinggal di daerah tropis dengan kelembaban tinggi lalu bermukim dalam jangka waktu yang lama di lingkungan baru yang panas dan terik dengan kelembaban rendah. Hal ini menyebabkan tubuh banyak kehilangan cairan dan tanpa disa dari bisa menyebabkan dehidrasi.

Tubuh kita sebanyak 70% mengandung cairan. Jika kekurangan cairan dan terpapar panas dalam waktu lama, maka selain dehidrasi dapat terjadi sengatan panas, luka bakar ringan, kehilangan konsentrasi / mudah bingung, lemas, haus, pusing, meriang, pegal-pegal di otot, bahkan berisiko memberat seperti pingsan, nyeri kepala hebat, suhu badan tinggi (hipertermia), kejang, hingga penurunan kesadaran.

Pencegahannya adalah dengan mempersering dan memperbanyak frekuensi minum, yaitu air putih atau air mineral terutama yang mengandung elektrolit (larutan oralit dan beberapa merk tertentu). Alhamdulillah, saat ini Dinas Kesehatan dan Kementerian Agama memberikan bekal larutan oralit, masker dan penyemprot air, kanebo, serta payung untuk menjaga jemaah dari bahaya dehidrasi, sengatan panas, dan debu pasir. Para jemaah juga dihimbau secara mandiri untuk mematuhi nasihat-nasihat dan larangan-larangan dari petugas haji agar tidak terjadi hal-hal tersebut di atas, serta jangan lupa untuk selalu memakai alas kaki, tidak banyak terpapar panas terik di siang hari, tidak memaksakan diri ke Masjidil Harom jika suhu siang terlalu ekstrim >45ºC kecuali saat ibadah umroh dan 6 hari ibadah haji yaitu 8 – 13 Zulhijjah.

Narasumber : dr.Sri Wulandari Sp.EM (Spesialis Emergency Medicine).

Reporter : Dimas Akbar